Cerita

Tentang Sindrom Asperger

Penulis: Yesi Riana | Selasa, 23 Pebruari 2021

Sebelum diagnosa

Sebelum didiagnosa menyandang Sindrom Asperger, Simon Perks selalu merasa bahwa segala sesuatunya sangat membingungkan. Dia tak dapat memahami kenapa orang lain bersikap seperti itu dan kenapa dia sulit menjadi bagian dari lingkungannya. Simon mampu menyelesaikan sekolah dengan baik namun ia kesulitan bergaul dan memiliki teman. “Saya selalu menghindari acara-acara sosial, tetapi saat saya tidak bisa menghindarinya, saya akan duduk diam  sendirian di ujung ruangan,” tutur Simon.

Simon menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan menikah dengan seorang istri yang luar biasa dan super sabar. Setelah kuliah, dia mendapatkan pekerjaan yang sangat dia nikmati. Tetapi dia tetap tidak bisa berhenti merasa seolah-olah seperti pengamat, dan seperti ada sebuah rahasia yang semua orang tahu, kecuali dirinya.  

Setelah diagnosa

Lantas, beberapa tahun lalu, istri Simon melihat sebuah dokumenter mengenai sindrom Asperger dan mengenali gejala-gejala yang dimiliki suaminya. Tiba-tiba semua mulai masuk akal. Simon mulai paham kenapa beberapa hal menjadi sangat sulit baginya, tetapi sangat mudah dilakukan oleh orang lain.

Sejak saat itu, Simon mulai mempelajari bahasa tubuh dan ekspresi muka, suatu hal yang dulu dia tidak pernah sadari. Dia mulai membaca buku-buku tentang interaksi sosial dan komunikasi, yang membantunya untuk memahami bagaimana bersosialisasi dengan orang lain. Semua itu tidak langsung membuat Simon secara otomatis memahami hal-hal ini, tetapi cukup membantunya untuk bersosialisasi serta membangun hubungan dengan teman dan rekan kerja.

Misalnya, dulu ia sulit untuk memahami kegunaan basa-basi, sampai akhirnya dia paham bahwa basa-basi adalah cara yang wajar untuk menghabiskan waktu. Juga merupakan  hal yang wajar untuk berbicara dari satu topik ke topik yang lain, tanpa perlu ada satu konklusi tertentu.

Mengasah talenta

Simon juga menyadari hal-hal yang menjadi kelebihannya. Misalnya, dia dapat memahami ide-ide kompleks dan mejabarkannya dengan mudah pada orang lain. Ia juga dapat memahami pola-pola angka dan informasi lainnya yang bagi orang lain merupakan hal kompleks. Simon juga dengan mudah  mempelajari bahasa asing seperti bahasa Prancis, Jerman dan Rusia. Dia juga mempelajari bahasa Belanda serta Mandarin.  Prestasinya dalam bidang akademik cukup cemerlang dan ia senang belajar hal baru, meski kerap kesulitan untuk berkonsentrasi dan memahami apa yang baru dibaca.

Belajar mengenai Asperger membuat Simon memahami bahwa dia memiliki banyak talenta yang harus diasah dari pada harus berpura-pura “normal”.

Simon juga mengikuti perkuliahan di Universitas Terbuka dan mengambil jurusan Fisika. Dirinya senang karena jurusan yang diambilnya mampu memberikan tantangan secara intelektual, tetapi juga memenuhi semangatnya untuk terus belajar dan menambah pengetahuan.

Menulis buku

Dokter mendiagnosa Simon dengan visual dyslexia sehingga ia sekarang harus menggunakan kacamata khusus yang dapat membantunya untuk membaca dan mengingat apa yang sudah dibacanya.

Di waktu senggangnya, Simon masih terus belajar mengenai Sindrom Asperger dan menulis tentang apa yang dialaminya dan hal-hal yang menarik baginya. Dia berharap suatu hari nanti tulisannya akan dibaca orang banyak serta dapat menjadi sumber penghasilan.

“Saya tidak tahu apakah memiliki sindrom Asperger adalah hal yang baik atau buruk. Tetapi ini adalah hal yang menjadikan saya, ya sebagai diri saya. Dan sejauh ini, saya merasa baik-baik saja.“

Simon kemudian menerbitkan sebuah buku berjudul Body language and communication: a guide for people with autism spectrum disorders yang diterbitkan oleh National Autistic Society.

 

Sumber                  :                 https://www.autism.org.uk/about/adult-life/stories/adapting.aspx

Penulis: Yesi Riana | Marketing di Community Music Center, Jakarta

Kerjasama dengan TA
Ads on us
Iklan Tes Deteksi
Pengenalan Autisme