Medis

Siapa Saja yang Rentan Terdiagnosa Autistik?

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Sabtu, 14 November 2020

Autistik merupakan gangguan perkembangan yang pada umumnya muncul di saat anak mencapai usia 3 tahun. Autistik mempengaruhi perkembangan otak anak, yang berakibat pada gangguan di aspek sosial, interaksi dengan individu lain, serta komunikasi. Banyak hal yang dapat menyebabkan individu terdiagnosa autistik. Namun, hingga saat ini penyebab munculnya gangguan autisitik belum ditemukan secara pasti, meski banyak faktor risiko yang berhubungan erat dengan gangguan ini. Faktor-faktor tersebut bermacam-macam bentuknya, dan salah satu faktor yang ditengarai adalah sejarah keluarga (secara biologis). Latar belakang keluarga dengan anak autistik memiliki kecenderungan meningkatkan risiko bagi keturunan berikutnya untuk terdiagnosa autistik juga.

Para peneliti menemukan apabila dalam sebuah keluarga terdapat satu orang anak autistik, maka kemungkinannya kurang lebih sebesar 5% bagi generasi berikutnya akan rentan terdiagnosa dengan gangguan autistik. Fakta lainnya menunjukkan sesama saudara kandung -terutama anak kembar yang salah satunya terdiagnosa autistik- maka kemungkinannya 5 hingga 10 kali lipat saudara kandung lainnya atau kembarannya sangat rentan terdiagnosa autistik. Beberapa penelitian yang dilakukan mengenai faktor risiko individu terdiagnosa autistik disebabkan oleh faktor keturunan (keluarga) menunjukkan adanya penyebab dari aspek:

  • Keturunan yang berasal dari ayah atau kakek
  • Kelahiran bayi dengan berat badan yang sangat rendah
  • Kelahiran bayi prematur dengan kondisi ekstrim
  • Adanya perubahan secara genetik yang belum diketahui penyebabnya

Kemungkinan penyebab lainnya dalam lingkup keluarga

Sangat banyak spekulasi mengenai penyebab gangguan autistik, selain yang berasal dari faktor keturunan. Penelitian mengenai penyebab autistik tetap dilaksanakan dari waktu ke waktu.Teori penyebab munculnya gangguan autistik yang dianggap paling berpengaruh adalah abnormalitas secara genetik. Abnormalitas genetik tidak hanya dilihat dari faktor keturunan saja, namun dapat disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan sekitar yang mengandung racun. Kombinasi antara faktor keturunan dengan lingkungan yang beracun merupakan penyebab gangguan autistik yang paling terbukti nyata. Hal lainnya yang dipercaya menjadi penyebab gangguan autistik, diantaranya kondisi kromosom dan sistem saraf yang abnormal menjadi faktor risiko bagi keluarga dengan anak autistik.

Jadi, siapa sajakah yang bisa terdiagnosa autistik?

Adanya penelitian yang menunjukkan hasil signifikan mengenai faktor keluarga, membuat kita setidaknya mendapatkan gambaran mengenai individu yang rentan terdiagnosa autistik. Di samping itu autistik lebih rentan terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Perbandingannya adalah anak laki-laki lebih rentan 4 hingga 5 kali lipat terdiagnosa autistik dibanding anak perempuan. Selain itu, gangguan autistik tidak memandang suku dan ras, siapa pun dapat terdiagnosa gangguan autistik. Beberapa penelitian membuktikan bahwa gangguan autistik tidak ditemukan oleh suatu kelompok ras, suku, maupun negara tertentu. Bahkan gaya hidup, edukasi, dan tingkat pemasukan (gaji) tidak memiliki pengaruh yang signifikan menjadi faktor risiko gangguan autistik.

Kesimpulannya, meski telah ditemukan beberapa penelitian dengan hasil yang nyata, perlu lebih banyak dilakukan penelitian lainnya dengan hasil yang signifikan mengenai faktor penyebab gangguan autistik. Hal yang perlu didentifikasi diantaranya: apa yang menyebabkan gangguan autistik, siapa saja yang berisiko rentan terdiagnosa gangguan autistik, dan bagaimana cara mencegahnya. Bagi kita saat ini setidaknya dapat menjalani pola hidup yang sehat- salah satunya dengan menghindarkan diri dari lingkungan yang berpotensi memiliki racun atau zat-zat berbahaya. Menjaga kesehatan selama kehamilan juga menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan.

 

Sumber:
Artikel ilmiah online oleh Diana Rodriguez yang berjudul : Who's at Risk for Autism? (telah ditinjau secara  medis oleh Pat F. Bass III, MD, MPH

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Mahasiswa Sarjana Psikologi Peminatan Klinis, Universitas Atma Jaya, Jakarta

Pengenalan Autisme
Kerjasama dengan TA
Ads on us
Iklan Tes Deteksi