Rekomendasi

Rekomendasi Film Marathon, Kisah Inspiratif Pelari Autistik

Penulis: Mas WOW | Minggu, 27 September 2020

Film-film Korea saat ini banyak digandrungi oleh para penikmat film, baik tua maupun muda. Selain didukung oleh para aktor dan aktris yang berwajah rupawan, sinematografi yang berkelas, serta jalan cerita yang menarik dan menyentuh menjadi kelebihan. Salah satu film yang akan direkomendasikan kali ini adalah film drama Korea berjudul Marathon (말아톤), yang dirilis di tahun 2005.

Film Marathon bercerita tentang kisah seorang anak bernama Cho-Won (Cho Seung-woo) yang memiliki gangguan autisme sejak bayi. Hal ini membuat Cho-Won sulit untuk diterima di lingkungan sekitarnya sehingga membuat ibunya, Kyung-sook (Kim Mi-suk), hampir meninggalkannya. Menyadari bahwa bagaimanapun kondisi Cho-Won ia adalah anak kandungnya, Kyung-sook berusaha untuk membuat anaknya menjadi anak yang bisa dibanggakan. Fokus yang berlebihan dari Kyung-sook pada Cho-Won membuat dirinya ditinggalkan oleh sang suami (Ahn Nae-sang) dan menjadikannya kurang memperhatikan anak keduanya, Jung-Won (Baek Seong-hyeon).

Remaja autistik yang hobi berlari

Ketika Cho-Won menginjak remaja, ibunya menyadari kecintaan anaknya terhadap lari. Ketika Cho-Won berlari, dia terlihat lebih bebas dan dapat sedikit lebih terbuka dengan orang lain. Hal ini mendorong Kyung-sook untuk mendaftarkan Cho-Won dalam kontes maraton amatir dan mencari pelatih bagi Cho-Won. Jung-wook (Lee Gi-yeong) adalah mantan pelari maraton terkenal yang akhirnya bersedia menjadi pelatih bagi Cho-Won. Namun, Jung-wook yang sekarang sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Jung-wook yang sekarang adalah seorang pria tua yang bermasalah dengan alkohol dan harus menjalani hukuman sosial akibat tertangkap sedang menyetir dalam kondisi mabuk. Setiap latihan pun, Jung-wook tidak serius dalam melatih Cho-Won. Ia hanya menyuruhnya untuk berlari memutari lapangan saja. Namun suatu ketika, Jung-wook sadar bahwa Cho-Won memiliki tekad yang kuat dalam olahraga lari dan mulai serius melatih pemuda autistik tersebut.

Melihat perjuangan yang harus dilalui Cho-Won, ibunya pun mulai mempertanyakan keputusan yang dibuatnya. Kyung-sook bimbang, apakah Cho-Won benar-benar suka dengan olah raga marathon atau semua ini hanya karena Cho-Won menjalankan perintah yang diberikan oleh ibunya. Di tengah kegalauannya, Kyung-sook memutuskan untuk tidak membiarkan Cho-Won mengambil risiko dengan mengikuti lomba marathon. Namun, Cho-Won menunjukkan bahwa dia memiliki keinginan yang berbeda dengan ibunya.

Diangkat dari kisah nyata

Menariknya, film Marathon diangkat dari kisah nyata mengikuti seorang pelari marathon di Korea Selatan yang didiagnosa autistik. Bae Hyeong-jin, nama pelari tersebut, didiagnosa autistik pada umur empat tahun. Tetapi, dengan dorongan ibunya, Bae giat belajar berolah raga mulai dari lompat tali, berenang, dan sepak bola. Ibunya berharap, Bae bisa memiliki rasa percaya diri melalui olah raga dan dapat berkompetisi secara sehat dengan anak-anak lainnya.

Nilai lebih dari film ini adalah jalan cerita yang menyentuh hati sekaligus meningkatkan mood penonton. Jeong Yoon-Chul, sang sutradara, memberikan pesan positif terhadap perjuangan yang harus dilalui oleh tokoh Cho-Won. Dalam film ini digambarkan bagaimana Cho-Won memiliki pandangan yang berbeda terhadap dunia sekitarnya, dan hal ini dapat membawa emosi penonton. Namun, sutradara Jeong dapat menjaga agar penonton tak larut dalam drama dan memberikan unsur komedi yang pas.

Kisah hubungan ibu dan anak autistik

Cerita hubungan antara ibu dan anak yang disajikan dalam film ini sangat menyentuh hati. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan Cho Seung-woo dan Kim Mi-suk dalam membawakan peran. Cho Seung-woo yang berperan sebagai Cho-Won, meski tidak terlihat dominan dalam film, namun sukses menampilkan sifat dari Cho-Won yang selalu bersemangat. Kim Mi-suk yang berperan sebagai ibunda juga dapat menangkap rasa frustasi dari seorang ibu yang kebingungan- tidak tahu apakah yang dilakukannya akan berakibat baik atau buruk bagi anaknya. Rasa frustasi dapat terpecahkan ketika ia menyadari bahwa Cho-Won berbeda dengan anak lainnya, dan itu bukan hal yang buruk.

Marathon adalah film drama Korea yang dapat menggugah hati dan memberikan mood yang positif bagi penontonnya. Bercerita mengenai perjuangan seorang anak autistik dalam menekuni olahraga berlari yang sangat dinikmatinya. Film ini juga menceritakan perjuangan seorang ibu dalam mendukung perkembangan anaknya tanpa harus terlalu menampilkan drama yang berkepanjangan.

Penulis: Mas WOW | Penikmat film, penggemar musik, dan pengagum buku

Kerjasama dengan TA
Ads on us
Pengenalan Autisme
Iklan Tes Deteksi