Sehari-hari

Perilaku Agresif pada Anak Autistik

Penulis: Hersinta | Kamis, 05 Agustus 2021

Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) tidak selalu dapat mengekspresikan kemarahan, ketakutan, kecemasan, atau frustrasi mereka dengan cara yang sama seperti anak-anak lain. Terkadang, mereka dapat mengekspresikan perasaan ini melalui perilaku negatif, seperti perilaku agresif terhadap orang lain. Atau melakukan perilaku agresif terhadap diri mereka sendiri, yang disebut dengan istilah self-injury. Mereka bisa memukul, menendang, melempar benda atau melukai diri sendiri - misalnya, dengan membenturkan atau memukul kepala mereka.

Apa penyebabnya?

Anak-anak autistik mungkin berperilaku agresif atau melukai diri sendiri karena beberapa faktor berikut:

  • Kesulitan memahami apa yang terjadi di sekitar mereka - misalnya, memahami apa yang dikatakan orang lain atau memahami komunikasi non-verbal (seperti ekspresi wajah atau gestur).
  • Tidak dapat mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhan mereka sendiri - misalnya, mereka tidak dapat menyatakan bahwa mereka tidak ingin melakukan kegiatan atau menginginkan benda tertentu.
  • Berada dalam kondisi sangat cemas dan tegang.
  • Memiliki masalah sensori, seperti terlalu peka atau sensitif terhadap suara yang terlalu keras, aroma tertentu atau adanya kebutuhan untuk stimulasi terhadap rangsangan sensori.
  • Sebagai ‘pelarian’ atau pelampiasan dari situasi atau kegiatan yang menyebabkan mereka merasa stres.

Memahami perilaku agresif

Memahami penyebab perilaku agresif dan melukai diri sendiri (self-injury) pada anak dapat membantu orang tua mengubah atau mengurangi perilaku negatif tersebut. Ayah dan Bunda dapat memahaminya dengan konsep ABC (Antecedents-Behavior-Consequences):

Antecedents (Anteseden): merupakan 'pemicu' dari perilaku agresif atau self-injury

Behavior (Perilaku):  cara anak Anda merespons pemicunya

Consequences (Konsekuensi) atau ‘imbalan’: apa yang diperoleh anak jika ia menghentikan perilaku agresifnya. Misalnya, anak diizinkan untuk melanjutkan kegiatan favorit, atau diperbolehkan untuk keluar dari situasi yang membuat ia stres. Ayah dan Bunda maupun guru dapat melatih untuk mengurangi perilaku agresif anak dengan mengenali pemicu dan menetapkan imbalan atau konsekuensi yang diperoleh anak ketika ia berperilaku agresif atau melukai diri sendiri.

Memahami kemampuan si kecil untuk berkomunikasi juga menjadi kunci dalam mencari tahu apa yang menyebabkan ia berperilaku agresif. Ketika anak tidak dapat mengungkapkan perasaan mereka atau meminta apa yang mereka butuhkan, mereka dapat menggunakan perilaku agresif untuk berkomunikasi.

Sebagai contoh, jika si kecil tidak suka makan nasi, tapi ia tidak dapat mengungkapkannya, bisa jadi ia akan memukul ibu atau ayahnya sebagai respon untuk mengatakan 'Buang nasinya, aku enggak mau!'.

Bagaimana mengatasinya?

Perlu diingat, bahwa Anda mungkin tidak dapat mencegah setiap ‘ledakan emosi’ yang terjadi atau perilaku agresif yang muncul pada anak. Namun beberapa tips untuk mengatasi perilaku agresif berikut ini dapat diterapkan:

  • Yang pertama dan terpenting adalah tetap bersikap tenang. Ledakan emosi atau tantrum yang paling agresif terjadi karena anak memiliki perasaan yang mengganggunya, dia tidak dapat mengkomunikasikannya. Dengan bersikap tenang dan mengendalikan emosi, Anda mengurangi resiko untuk memperumit situasi yang terjadi. 
  • Saat tantrum, anak akan merasa sangat stres. Sulit untuk memproses dan memahami apa yang dikatakan orang lain ketika Anda merasa stres, dan ini terutama berlaku untuk anak autistik, terlebih yang memiliki kesulitan verbal atau memahami bahasa.
  • Gunakan hanya beberapa kata pendek saja untuk memberi perintah pada anak. Misalnya, ‘Duduk di sini.’
  • Anda mungkin perlu memindahkan anak ke tempat yang lebih aman, untuk menghindari barang-barang yang berpotensi menimbulkan bahaya. Misalnya, rak yang bisa jatuh atau benda kaca. Ruang tertutup yang tenang mungkin dapat menjadi pilihan. Anda mungkin juga perlu meminta orang lain keluar untuk menjaga situasi lebih aman.
  • Anak mungkin merasa frustrasi dan butuh bantuan. Langkah selanjutnya adalah mengajari anak untuk menunjukkan kekesalannya dengan cara lain. Misalnya, dengan bicara, menggunakan bahasa tubuh atau isyarat, serta menunjukkan gambar untuk memberi tahu Ayah dan Bunda ketika ia membutuhkan bantuan.
  • Jika perilaku agresif anak semakin sulit untuk dikendalikan dan cenderung membahayakan diri sendiri atau orang lain, maka orang tua maupun pendamping harus berkonsultasi ke dokter, psikolog atau tenaga ahli di bidang perilaku, untuk mempertimbangkan cara terbaik dalam mengatasi perilaku tersebut. 

Memahami penyebab perilaku agresif dan self-injury pada anak dapat membantu orang tua mengubah atau mengurangi perilaku tersebut.

 

Sumber: 

https://raisingchildren.net.au/autism/behaviour/common-concerns/aggressive-behaviour-asd

Penulis: Hersinta | Orangtua dari penyandang autistik, dosen komunikasi di LSPR Jakarta dan kandidat PhD kajian media dan disabilitas di Curtin University

Ads on us
Pengenalan Autisme
Iklan Tes Deteksi
Kritik & Saran