Sehari-hari

Parenting Tips 2

Penulis: Hersinta | Senin, 15 Maret 2021

Di artikel kali ini, akan dibahas tentang tips untuk mengembangkan kecerdasan anak. Setiap anak memiliki kemampuan untuk belajar, tak terkecuali anak dengan autisme. Menurut Adriana Ginanjar, psikolog dan ibu dari seorang putra autistik, yang membedakan anak autistik dengan anak-anak pada umumnya adalah proses dan gaya belajar yang berbeda. Karena pada umumnya anak autistik memiliki kesulitan dalam memproses informasi yang masuk, memberikan respon yang sesuai serta keterbatasan dalam komunikasi dan bahasa, maka cara belajar yang khusus serta latihan dalam bentuk pengulangan sangat diperlukan. Kehadiran guru dan pendamping yang kreatif dalam mencari cara untuk mengembangkan potensi anak serta ekstra sabar, juga menjadi hal penting.

Berikut adalah beberapa faktor yang menurut Adriana perlu diperhatikan dalam kegiatan pengajaran anak: 

  • Lingkungan yang mendukung

Dengan adanya kesulitan dalam memproses informasi pada anak autis, kesulitan untuk fokus dan konsentrasi serta masalah hipersensitivitas sensorik, maka perlu dibuat lingkungan belajar yang mendukung dan nyaman. Misalnya, jika Anda menggunakan ruangan di rumah untuk terapi atau belajar, pilihlah ruangan yang tenang dengan desain minimalis dan perabot sederhana. Pilih warna cat dinding yang ‘menenangkan’ seperti warna-warna muda yang sejuk (biru, hijau, ungu dan cokelat muda merupakan alternatif warna yang menyejukkan).  Sebaliknya, warna terang seperti merah, oranye, kuning dan putih dapat memberikan sensasi yang berlebihan serta memicu kegelisahan mereka.

  • Gaya belajar 

 Guru dan pendamping dapat membuat suasana belajar lebih menyenangkan dan kondusif dengan menyesuaikan pada kondisi anak. Misalnya, memberi kesempatan pada anak yang hiperaktif untuk menyelesaikan tugasnya sambil berdiri, tidak hanya duduk. Anda juga bisa memotong sesi menjadi lebih pendek agar anak tidak bosan, dan diselingi dengan gerakan, mendengarkan lagu atau musik  dan menyanyi, misalnya. Observasi kapan waktu anak paling semangat dalam belajar. Menurut Adriana, salah satu hal penting adalah mengevaluasi pemberian imbalan atau reward. Cermati jenis imbalan apa yang disukai anak sehingga dapat memotivasi mereka untuk belajar. Jenis reward juga perlu dievaluasi secara berkala sesuai dengan perkembangan usia anak dan lingkungan belajarnya. 

  • Kemampuan visual 

Sebagian besar anak autis memiliki kemampuan visual yang sangat baik. Misalnya, ada anak yang mampu menggambar secara detail, memasang puzzle dengan cepat, atau mengingat informasi secara baku dan tepat. Temple Grandin, salah satu sosok wanita autistik populer yang juga merupakan Doktor di bidang Animal Science, menjelaskan bagaimana ia berpikir secara visual. “Ketika saya berpikir, cara kerja otak saya mirip dengan Google search engine yang mencari foto. Saya menggunakan bahasa untuk menceritakan foto-foto realistik yang muncul dalam imajinasi saya. Ketika mendesain peralatan untuk industri ternak, saya dapat mengujinya dalam imajinasi saya, seperti program virtual reality di komputer.” 

Karena itu, sebagian anak autistik lebih mudah belajar dengan bantuan gambar yang mewakili kata-kata. Menurut Adriana, dengan memasangkan gambar dengan kata, anak akan belajar secara ‘asosiatif’- mengingat nama atau kata dengan bantuan visual. Kelemahannya, anak akan sulit memahami konsep yang abstrak, misalnya kata sifat atau yang berhubungan dengan emosi (bukan benda). 

  • Minat khusus 

Anak-anak autistik sebagian besar memiliki minat khusus pada obyek atau topik tertentu, dan bisa sangat fokus dan belajar tentang obyek dan topik tersebut secara seksama. Karena itu, Anda dapat memanfaatkan ketertarikan ini untuk memotivasinya dalam belajar dan mengembangkan kemampuan sosial serta komunikasi mereka. Misalnya, Anda dapat menggunakan kereta atau karakter Thomas the Tank Engine (jika ia gemar sekali dengan kereta) untuk mengajarkannya soal warna, angka, dan ukuran (besar-kecil, panjang-lebar).

Ayah dan Bunda juga dapat menggunakan obyek dan topik yang menjadi minatnya untuk mengembangkan percakapan. Awalnya mungkin ia cenderung berbicara satu arah mengenai hal kesukaannya tersebut. Selanjutnya secara bertahap, Ayah dan Bunda dapat mulai bertanya tentang topik yang dibicarakannya, dan meminta ia untuk ganti bertanya pada Anda, sehingga tercipta komunikasi yang bersifat dua arah. 

“Pada umumnya, anak autistik memiliki kesulitan dalam memproses informasi yang masuk, memberikan respon yang sesuai serta keterbatasan dalam komunikasi dan bahasa.”

Sumber:

“Panduan Praktis Mendidik Anak Autis: Menjadi Orang Tua Istimewa”, Adriana S. Ginanjar (2008).

https://raisingchildren.net.au/autism/learning-about-asd/about-asd/learning-strengths-asd

http://enduratex.blogspot.com/2017/04/color-and-autism.html

https://www.autismparentingmagazine.com/sensory-room-ideas/

Penulis: Hersinta | Orangtua dari penyandang autistik, dosen komunikasi di LSPR Jakarta dan kandidat PhD kajian media dan disabilitas di Curtin University

Iklan Tes Deteksi
Kerjasama dengan TA
Ads on us
Pengenalan Autisme