Medis

Komunikasi pada Anak Autistik Usia Pra-sekolah

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Selasa, 12 Januari 2021

Saat ini, karakteristik komunikasi pada anak autistik telah lazim digunakan untuk salah satu indikator deteksi dini autisme. Pada gejala awal autisme, ditemui adanya hambatan dalam komunikasi dan sosialisasi serta masalah lainnya (seperti perilaku hiperaktif, pola perilaku yang stereotip, gangguan tidur, dan sebagainya). Salah satu gejala spesifik yang tampak adalah tidak adanya sosialisasi yang bersifat timbal balik melalui respon dan vokalisasi anak, terbatasnya orientasi sosial, dan ketidakmampuan dalam memahami komunikasi non verbal (komunikasi tanpa kata). Melewati usia 2 tahun, kemampuan sosialisasi dan komunikasi anak umumnya tetap terhambat, disertai dengan keterlambatan perkembangan bicara. Umumnya hal ini terjadi pada 50% anak yang menyandang autisme.

 

Kisaran usia anak prasekolah adalah anak yang berusia antara 3 hingga 6 tahun. Pada tahap ini, anak-anak dianggap telah mampu untuk menerima, mengerjakan, dan menafsirkan struktur bahasa maupun kata-kata yang diajukan pada mereka. Meski, mereka masih sering keliru mengartikan kalimat. Selain itu, anak juga belajar memahami dan mengombinasikan dua kalimat atau lebih menjadi satu kalimat yang kompleks. Perkembangan komunikasi ini, misalnya, tampak ketika anak mulai mampu untuk menceritakan pengalaman mereka, bercerita ulang hal yang diceritakan kepada mereka, ataupun membuat cerita yang baru.

 

Pada umumnya, anak autistik belum mampu mencapai tahap komunikasi yang seharusnya dimiliki oleh anak seumurannya. Dan banyak ditemui bahwa gejala autistik baru terdeteksi setelah usia 3 atau bahkan 5 tahun. Menurut Barry M. Prizant and Amy M. Wetherby dalam artikel ilmiah berjudul Communication In Preschool Autistic Children, identifikasi gejala autistik pada usia anak di bawah 3 tahun masih terbilang jarang. Ketika memasuki usia 3 tahun ke atas, hampir 85% anak autistik mengalami hambatan dalam bicaranya serta echolalia (mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya). Hambatan komunikasi lainnya adalah anak kehilangan kemampuan bicaranya. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Jepang, sebesar 37,2% dari seluruh sampel subjek anak-anak dengan autisme kehilangan kemampuan berbicara dimulai saat mereka berusia 30 bulan ke atas. Kesulitan komunikasi yang ditemui diantaranya adalah: permasalahan dalam mengekspresikan komunikasi dan bahasa, kemampuan bahasa yang terbatas, serta tidak mampu mengenali simbol sosial sehingga berdampak pada keterbatasan sosial di usia perkembangan awal.

 

Keterbatasan dalam komunikasi verbal dan non verbal, kompetensi sosial, dan kemampuan berbicara yang melibatkan kognitif inilah yang dijadikan sebagai dasar dalam penerapan intervensi dan penanganan terhadap anak autistik. Patut dicatat, asesmen atau pemeriksaan yang diterapkan bagi anak usia prasekolah merupakan hal penting. Penanganan dalam aspek komunikasi anak autistik merupakan salah satu jenis intervensi yang sangat penting. Usia prasekolah merupakan masa pertumbuhan penting untuk mengembangkan potensi anak, termasuk anak autistik. Mengembangkan hubungan positif antara orang tua atau pengasuh dengan anak, serta mengikuti program intervensi yang tepat, dapat meningkatkan dan memperluas kompetensi komunikasi dan efektifitas sosial anak. Dengan fokus pada aspek keluarga, profesional (intervensi), dan layanan prasekolah (sekolah atau institusi tertentu), diharapkan adanya hasil yang positif bagi kemajuan anak autistik di usia prasekolah.

 

Sumber Artikel :

Jurnal Ilmiah online berjudul : Communication In Preschool Autistic Children, ditulis oleh Barry M. Prizant and Amy M. Wetherby dalam Preschool Issues in Autism, New York.

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Mahasiswa Sarjana Psikologi Peminatan Klinis, Universitas Atma Jaya, Jakarta

Kerjasama dengan TA
Kritik & Saran
Iklan Tes Deteksi
Ads on us