Medis

Kasus Self-Harm dan Bunuh Diri pada Individu Autistik

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Kamis, 02 Desember 2021

Kisah Conor

Conor merupakan seorang anak yang terdiagnosa ASD (Autism Spectrum Disorder) sejak usianya 3 tahun. Dia memiliki emosi yang tinggi dan mudah meluapkan amarahnya. Ketika berusia 10 tahun dia kerap berkata pada dokter yang merawatnya, “Biarkan aku pergi. Aku hanya ingin meninggalkan sekolah  untuk selamanya. Lebih baik buang aku saja, biarkan aku pergi”. Ibunya berhasil merekam pernyataan Conor di malam hari saat ia sedang tantrum.

Setelah menginjak usia 17 tahun, Conor sering meluapkan emosinya yang tidak stabil dengan berkonfrontasi terhadap guru di sekolahnya dan merasa putus asa. Orang tuanya bercerita, setiap kali mereka membawa pulang Conor dari sekolahnya ia akan berkata,” Aku siap untuk meninggal sekarang”. Setelah diselidiki lebih dalam, sejak berusia 7 tahun hampir setiap hari Conor mengalami panik sebelum berangkat ke sekolah di pagi hari. Ia memiliki phobia terhadap suara gonggongan anjing peliharaan keluarganya dan suara tangisan adiknya yang masih berusia bayi. Selain itu, Conor juga sangat cemas dengan tuntutan yang mengharuskannya bersekolah. Pernah suatu kali ketika ia merasa sangat stres, ia akan berlari ke tengah jalan di depan rumahnya dan nyaris tertabrak kendaraan yang lewat. Fakta lainnya, Conor memiliki kecerdasan yang tinggi dalam bidang matematika di sekolahnya. Hal ini menunjukkan, kecerdasan secara akademis yang dimilikinya tidak dapat menutupi kesulitannya dalam bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah.

Individu Autistik Rentan Mengalami Gangguan Depresi

Masyarakat umum, termasuk para dokter ahli mungkin saja memiliki asumsi yang salah jika mereka beranggapan bahwa individu autistik tidak memiliki emosi yang kompleks. Paul Lipkin yang merupakan direktur Interactive Autism Network di Maryland berpendapat, “Anak-anak ini (autistik) pada umumnya juga memiliki dan merasakan emosi seperti anak “normal”, namun yang perlu digaris bawahi, mereka tidak menunjukkannya seperti individu pada umumnya. Seringkali emosi yang diekspresikan dengan cara berbeda oleh anak autistik diabaikan begitu saja, padahal kenyataannya mereka merupakan individu yang sangat sensitif”. Terkait dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh individu autistik, seringkali salah diinterpretasikan  oleh para dokter ahli, di mana mereka menganggap bahwa bunuh diri dan self-harm (perilaku menyakiti diri sendiri) merupakan bagian dari gejala individu dengan ASD.

Sebetulnya, tak hanya anak yang bermasalah dalam aspek komunikasi sosial yang memiliki risiko cukup tinggi untul berperilaku menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri. Individu yang tidak terdiagnosa ASD pun sangat rentan untuk berperilaku seperti ini. Secara ilmiah, menurut penelitian dari Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry di Inggris, remaja yang terdiagnosa ASD atau setidaknya menunjukkan satu dari empat gejala ASD, memiliki kecenderungan pemikiran yang rentan menyakiti dirinya dan berpotensi melakukan bunuh diri. Salah satu penyebab terbesarnya adalah anak autistik sering terkena bullying di lingkungannya, sehingga rentan mengarah ke gangguan depresi dan kecemasan. Masih perlu dilakukan banyak penelitian yang lebih mendalam, karena pada kenyataannya orang kebanyakan sekalipun sangat rentan mengalami depresi dan kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Penelitian yang dilakukan hendaknya mengkaji beragam faktor dan sudut pandang. Perlu dicatat, bahwa bukan berarti hasil-hasil riset tadi dapat mengindikasikan bahwa semua individu autistik memiliki kecenderungan tersebut. Jika mereka diterima dengan baik dan dihargai oleh lingkungan sekitarnya, maka kasih sayang yang mereka terima dapat tertanam ke dalam diri mereka. Dan percayalah, bahwa sensitifitas emosi mereka yang tinggi dapat menangkap hal ini.

Sumber:

Artikel online yang berjudul “ The Hidden Danger of Suicide in Autism “ oleh Cheryl Platzman Weinstock (Jurnalis Award-winning yang berfokus pada kesehatan dan penelitian ilmiah yang berhubungan dengan kesehatan mental).

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Mahasiswa Sarjana Psikologi Peminatan Klinis, Universitas Atma Jaya, Jakarta

Kritik & Saran
Iklan Tes Deteksi
Kerjasama dengan TA
Pengenalan Autisme