Medis

High-Functioning dan Low- Functioning Autism: Tepatkah Penggunaan Istilah Ini?

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Sabtu, 07 November 2020

Pernahkah Anda mendengar istilah High-Functioning Autism (HFA) dan Low- Functioning Autism (LFA)? Anak dengan HFA memiliki kemampuan bahasa dan kognitif yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak dalam kategori LFA. Mereka juga memiliki tingkat intelegensi (IQ) rata-rata bahkan di atas rata-rata. Istilah high dan low digunakan secara umum untuk membedakan tingkat fungsional anak yang terdiagnosa autistik. Walaupun istilah tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan anak yang berbeda-beda, apakah istilah high (tinggi) dan low(rendah) sudah tepat?

Apa yang dimaksud dengan High-Functioning Autism?

Istilah High-Functioning Autism (HFA) telah banyak digunakan dalam literatur penelitian dan berbagai treatment meskipun nyatanya belum ada satu pun peneliti yang mendefinisikannya secara konsisten dan tepat. Di sisi lain, kategorisasi berdasarkan tingkat fungsional individu telah diterapkan dalam kelompok tertentu dengan tepat. Misalnya, dalam bidang psikologi, Autism Spectrum Disorder (ASD) dibagi berdasarkan dengan tingkat keparahan gejala anak, yaitu level 1, level 2, dan level 3. Tingkat keparahannya dapat sangat bervariasi dan bergantung pada konteks yang ada, sehingga untuk memberi label pada gejala anak autistik bukanlah hal mudah.

Ros, individu yang terdiagnosa autistik di usia dewasa menjelaskan, “Jika dikategorisasikan, saya adalah individu autisitik dengan high-functioning terendah yang pernah ada”. Ros memiliki tantangan besar dengan kemampuan berbicara dan intelektual yang cukup tinggi (baik). Terkadang hal ini membuatnya semakin cemas,bahkan menimbulkan panik bagi dirinya. Jika dihadapkan pada aktivitas yang berhubungan dengan kemampuan motorik (otot), misalnya seperti menyiapkan peralatan makan untuk makan malam, dirinya dapat menjadi sangat cemas. Hal ini berdampak negatif pada kemampuan fungsionalnya. Kesimpulannya, high-functioning yang dimilikiRoss bergantung pada situasi dan tingkat kecemasan yang dialaminya, sehingga ia tidak dapat menyimpulkan apakah ia termasuk ke dalam kategori tinggi ataupun rendah.

Cerita Ros menunjukkan bahwa penggunaaan istilah tinggi atau rendah terhadap individu autistik tidak semudah yang dipikirkan. Dalam budaya barat khususnya, masyarakat menilai kecerdasan individu menjadi duadimensi, seperti  kecerdasan linguistik dan matematika yang sangat bertolak belakang dengan kecerdasaran yang berhubungan dengan seni. Hal ini menyebabkan stereotip tolak ukur kesuksesan secara akademis dapat tercapai, jika individu memiliki kecerdasan linguistik dan matematika yang tinggi. Selain itu, ada pula dampak yang timbul dari penggunaan istilah ‘tinggi’ atau ‘rendah’ bagi individu autistik.

Potensi Timbulnya Kesalahpahaman

Penggunaan istilah tersebut bisa saja menimbulkan kesalahpahaman bagi orang tua atau pengasuh anak autistik, disebabkan penyebutan ‘tinggi’ atau ‘rendah’. Orang tua dengan anak autistik yang diberi label LFA, dapat merasa rendah diri dan merasa anak mereka memiliki kemampuan tidak sebaik anak autistik yang masuk dalam kategori HFA. Lalu bagaimana orang tua dengan anak autistik yang dikategorikan HFA? Kesalahpahaman lainnya dapat terjadi ketika ada orang-orang yang mengatakan bahwa orang tua tersebut “beruntung” karena setidaknya anaknya memiliki kemampuan yang lebih jika dibandingkan dengan anak autistik dengan LFA.  Hal ini juga dapat menyinggung perasaan orang tua tersebut, karena pada kenyataannya sangat banyak tantangan yang harus dihadapi.

Alternatif lainnya untuk membedakan kemampuan dan keunikan anak autistik yaitu berdasarkan level area perkembangannya. Dalam model The SCERTS (model edukasi dengan pengelompokkan individu autistik berdasarkan area perkembangannya), penyebutan terhadap level anak yang terdiagnosa autistik dalam area komunikasi sosial terbagi ke tiga area yaitu, Social Partner (individu autistik yang berkomunikasi dengan gestur dan vokal suara tertentu), Language Partner (individu autistik yang berkomunikasi dengan gambar, simbol, dan logat tertentu), dan Conversational Partner (individu autistik yang berkomunikasi dengan mengkombinasikan simbol tertentu dan lebih kompleks dibandingkan dua kategori lainnya). Dibandingkan dengan menitikberatkan pada kemampuan anak yang bersifat tinggi atau rendah, istilah-istilah ini lebih positif untuk digunakan.

Jadi, apakah dengan menyebut anak termasuk ke dalam kategori HFA dan LFA merupakan hal yang tepat? Sebenarnya, menggunakan istilah ini tidak sepenuhnya salah, khususnya bagi orang awam yang belum memiliki pengetahuan dan informasi terkait dengan anak atau individu yang terdiagnosa autistik. Namun, ada baiknya jika kita dapat menggunakan istilah yang ada dengan lebih bijak.

Designations such as high functioning and low functioning tend to unfairly “cast in concrete” a person’s ability level . – Dr. Barry Prizant (Researcher & International Consultant Children & Adults with ASD)

Sumber:

Prizant. B. (2012). Straight Talk About Autism : High and Low Functioning Autism A False (Harmful) Dichotomy? Artikel dalam Autism Spectrum  Quarterly.

Penulis: Gisela Gita, S.Psi. | Mahasiswa Sarjana Psikologi Peminatan Klinis, Universitas Atma Jaya, Jakarta

Kerjasama dengan TA
Kritik & Saran
Ads on us
Pengenalan Autisme