Sharing

Belajar untuk Menerima

Penulis: Yesi Riana | Kamis, 12 Agustus 2021

Sejak dulu, Emily Berman selalu ingin menjadi seorang ibu. Ia selalu membayangkan, akan membesarkan anak-anak dengan suaminya dan pergi berpetualang, berkemah, serta menonton konser musik bersama-sama. Ia ingin anaknya tumbuh dewasa, bahagia dan mandiri. Emily membayangkan setiap anaknya akan menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya. Sampai akhirnya beberapa tahun yang lalu, ia menyadari bahwa dirinya-lah yang harus menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Saat anaknya berusia sebelas bulan, Emily menyadari bahwa ia sedang mengandung anak perempuan. Ia pun membayangkan anak perempuan ini akan menjadi teman dekatnya dan menjadi saudara bagi anak lelakinya.

Sedari awal, Leah, putrinya, sering rewel. Ia jarang sekali tidur dan kerap menangis. Sejauh yang Emily ingat, Leah hanya diam saat ia sedang digendong. Suami Emily pernah mengatakan bahwa Leah tidak pernah mau menatap wajah suaminya. Tetapi saat itu Emily tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

Saat Leah berusia 6 bulan, mereka mencoba menyuapinya dengan sereal nasi dicampur ASI. Hal ini membuat Leah tersedak dan mendorong makanan dengan lidahnya. Enam bulan berikutnya, mereka mencoba memberi Leah berbagai macam makanan bayi dan setiap saat ia selalu tersedak, muntah, berteriak, menangis, dan menolak makanannya. Emily mulai merasakan ada sesuatu yang tidak benar, tetapi dokter anak yang menangani Leah tidak khawatir akan hal tersebut. Saat Leah menginjak usia setahun, ia mulai mengikuti terapi untuk makan. Ia mulai merangkak di usia dimana anak-anak lain sudah mulai berjalan. Emily menyadari bahwa Leah memiliki keterlambatan pertumbuhan, tetapi ia berusaha untuk tak terlalu memikirkan hal tersebut. Terlepas dari training-nya sebagai guru anak-anak, Emily tak pernah menyangka ia akan memiliki anak dengan gangguan perkembangan.

Mencoba memberi Leah makan menjadi pergumulannya sehari-hari, Terapi yang dijalaninya tidak membantunya dalam makan. Leah berhenti merespon namanya sama sekali, tidak melakukan kontak mata dan berhenti mengucapkan kata-kata yang ia tahu sebelumnya. Kekuatiran Emily mulai terbukti saat beberapa ahli perkembangan datang dan menganalisa Leah. Mereka mendiagnosanya dengan keterlambatan perkembangan yang signifikan. Pada saat yang bersamaan, Emily tengah mengandung anak ketiganya. Meski memiliki pengalaman dan training tentang anak-anak, ia merasa tidak siap dan mulai merasa kuatir.

Saat Emily mengetahui bahwa Leah didiagnosa autistik, ia merasa sangat sedih. Selama berbulan-bulan, ia tidak pergi keluar, sering merasa pusing serta sulit tidur. Setelah secara resmi mendapat diagnosa dari dokter, Emily merasa rumahnya menjadi “asing”. Berbagai terapis, pengawas, pelatih, dan pekerja sosial mengunjungi rumah Emily hampir setiap hari. Butuh beberapa tahun sampai ia terbiasa dengan orang-orang asing yang datang setiap hari. Tetapi Emily bersyukur karena orang-orang ini kemudian menjadi sistem support bagi Emily dan keluarganya.

Sikap Leah menjadi semakin buruk. Setiap harinya ia dapat berteriak selama berjam-jam, menangis, tersedak, dan menyakiti dirinya sendiri. Ia menjadi sangat sensitif terhadap benda-benda yang halus, dan dapat muntah melihat boneka, selimut, atau karpet. Emily merasa tidak berdaya. Ia tidak bisa memberikan kenyamanan bagi Leah seperti yang ia lakukan kepada anak-anaknya yang lain. Satu-satunya cara Leah dapat makan adalah dengan dibawa berjalan-jalan dengan kereta dorongnya dan berhenti untuk disuapi di sela-sela itu. Leah lebih tenang saat ia bergerak. Emily dan suaminya seringkali membawa Leah berjalan-jalan dengan mobil selama berjam-jam.

Emily kerap merasa tidak berdaya. Baginya, lebih mudah untuk menangisi kepergian Leah daripada membesarkan Leah. Ia tidak sanggup melihat Leah menderita. Dan ada di sekitar Leah juga bukan hal yang menyenangkan. Emily pernah mengalami serangan panik dan takut dalam menghadapi “tantangan” setiap harinya. Lantas, ia kemudian mulai menyadari bahwa ia tidak akan bisa mengubah Leah, jadi ia harus mengubah dirinya sendiri.

Emily mulai menghubungi orang tua lain dengan anak autistik. Ia mulai menghadiri kelas meditasi bagi orangtua. Emily mulai belajar untuk lebih tenang meski keadaan sedang “kacau”.

Dari sini, Emily mulai belajar untuk berserah dan tidak berusaha mengubah keadaan yang tak bisa diubah, tetapi mulai menerimanya dan mensyukuri segala sesuatunya.

Sumber : https://the-art-of-autism.com/the-parent-shift-raising-an-autistic-child-my-journey-to-my-better-self/

Penulis: Yesi Riana | Marketing di Community Music Center, Jakarta

Ads on us
Kritik & Saran
Pengenalan Autisme
Iklan Tes Deteksi