Sharing

ASEAN Autism Games 2018

Penulis: Yesi Riana | Kamis, 02 September 2021

Pada tanggal 20 dan 21 Oktober 2018 lalu, Indonesia menjadi tuan rumah dari perlombaan ASEAN Autism Games 2018. Acara ini berlangsung di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, Indonesia. Pertandingan ini diikuti oleh anak-anak dan individu autistik.

Indonesia menjadi negara keempat penyelenggara ASEAN Autism Games, setelah sebelumnya diseleggarakan di Thailand, Brunei, dan Filipina. Perhelatan olahraga ini diselenggarakan oleh The 4th ASEAN Autism Network (AAN) Congress. Perlombaan ini merupakan ide dari para orang tua yang selalu mengikuti kongres ASEAN Autism Network. Pertandingan olahraga dipilih menjadi kegiatan yang menarik bagi anak-anak dan individu autistik.

Ada dua cabang olahraga yang dipilih dalam perlombaan, yaitu lomba lari dan lomba renang. Jumlah peserta yang ikut serta di tahun ini sebanyak 220 orang, dengan 179 peserta dari Indonesia, 6 peserta dari Filipina, 13 peserta dari Myanmar, 3 peserta dari Vietnam, 5 peserta dari Singapura, 9 peserta dari Malaysia, 1 peserta dari Laos, dan 1 peserta dari Thailand. Peserta dibagi menjadi 2 kelompok usia, yaitu usia 11 – 15 tahun dan di atas 16 tahun. Selama acara berlangsung, para peserta selalu didampingi oleh orang tua atau keluarga.

Lomba lari dibagi menajadi lomba lari 50 meter dan 100 meter. Lomba larinya pun berbeda dengan lomba lari pada umunya. Dalam lomba lari ini, peserta diperbolehkan membawa pendamping. Pendamping bertugas untuk mengarahkan atau memberi semangat kepada peserta untuk bisa mencapai garis finish. Pendamping tidak diperkenankan untuk mendorong atau menarik peserta ke garis finish.

Sementara lomba renang dibagi menjadi kategori 50 meter dan 100 meter. Dalam acara ini, wasit-wasit yang digunakan adalah wasit-wasit dari ASEAN Games dan ASEAN Para Games.

Selain kedua cabang lomba tersebut, terdapat juga permainan tradisional dan permainan Dodgebee (lempar cakram). Permainan ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi antar peserta serta melatih motorik. Cakram yang digunakan juga ringan dan lembut karena terbuat dari busa tetapi dapat dilempar ke udara dan ditangkap.

Dalam acara pembukaan ASEAN Autism Games ditampilkan tarian-tarian tradisional yang juga dibawakan oleh anak-anak dan individu autis. Acara pembukaannya pun dihadiri oleh Ketua Yayasan Autis Indonesia (YAI) dan perwakilan dari Kementerian Sosial dan ASEAN Sekretariat.

Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Autisma Indonesia (YAI), London School of Public Relations (LSPR), dan London School Center for Autism Awareness (LSCAA), Asia Pasific Development Center of Disability (APCD), Pemerintah Jepang, dan Kementerian Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia Thailand. Acara ini pun gratis, alias tidak dipungut biaya untuk tiket masuknya.

Kompetisi olahraga ini juga didukung oleh Sekretariat ASEAN, ASEAN Autism Mapping, ASEAN Autism Network, dan Japan-ASEAN Intergration Network.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Autisme. Dong Uy Koe, Dewan Eksekutif ASEAN Autism Network, mengatakan sudah saatnya anak-anak dan individu autistik ditampilkan serta dilibatkan dalam berbagai kegiatan di tengah masyarakat.

Para orangtua, profesional, akademisi, praktisi sudah sering terlibat dalam berbagai kegiatan kongres, seminar yang membahas autisme. Kini, “Sudah saatnya kita tampilkan anak-anak dan individu autistik agar masyarakat menyadari kehadiran mereka dan menjadikan mereka sebagai bagian dari masyarakat,” kata Dong.

 

Sumber :            

https://www.antaranews.com/berita/760108/ratusan-anak-autis-ikut-asean-autism-games

https://kumparan.com/berita-heboh/6-fakta-asean-autism-games-2018-ajang-olahraga-untuk-anak-berspektrum-autisme-1540017623722698223

                      

Penulis: Yesi Riana | Marketing di Community Music Center, Jakarta

Kritik & Saran
Kerjasama dengan TA
Ads on us
Pengenalan Autisme