Rekomendasi

A Brilliant Young Mind – Kisah Si Jenius Matematika Autistik

Penulis: Mas WOW | Sabtu, 31 Oktober 2020

I find any communication of a non-mathematical nature very difficult.

Because I don’t talk much, people think I don’t have anything to say. Or, that I’m stupid.

And that’s not true. I have lots thing to say. I’m just afraid to say them.

Kalimat di atas merupakan pembuka film A Brilliant Young Mind, sebuah film drama apik yang bercerita tentang seorang anak jenius matematika berumur 9 tahun bernama Nathan Ellis.  Film yang ketika dirilis pertama kali di Inggris berjudul X+Y ini disutradarai oleh Morgan Matthews dan dibintangi oleh Asa Butterfield, Rafe Spall, dan Sally Hawkins. Perlu dicatat, film ini memiliki Rating PG-13, yang berarti tidak disarankan bagi anak kecil tanpa dampingan orang tua.

Autistik yang jenius dalam matematika

Film A Brilliant Young Mind bercerita mengenai Nathan Ellis, seorang anak berusia 9 tahun dengan kemampuan luar biasa dalam matematika. Di awal film, diceritakan bahwa Nathan didiagnosa autistik. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang dapat berkomunikasi tanpa gangguan dengan Nathan. Bahkan ibunya pun, Julie, tak dapat berkomunikasi dengan baik dengan Nathan. Nathan melihat dunia dari sisi yang berbeda dengan orang lain di sekitarnya. Baginya, keteraturan adalah penting dan Nathan sangat tertarik dengan pergerakan, warna, dan matematika.

Suatu hari, Nathan kecil mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ayahnya. Hal ini membuat Nathan makin tertutup dengan dunia sekitarnya. Kehilangan satu-satunya sosok yang dapat diajak bicara dan bercanda membuat Nathan menjadi anak yang sangat tertutup. Tidak ada yang dapat membantunya untuk mengkomunikasikan perasaannya. Bahkan Nathan menganggap ibunya tidak sepintar dirinya dan tidak cukup pantas untuk diajak berbicara. Julie pun merasa sakit hati atas perlakuan yang diberikan oleh Nathan, namun ia tetap menunjukkan kesabaran dan toleransi atas hal ini.

Saat berumur 9 tahun, Julie memasukkan Nathan ke dalam kelas unggulan untuk mengalihkan ingatan Nathan mengenai kecelakaan yang dialaminya. Di sekolah ini, Nathan bertemu dengan Martin yang dulunya juga dikenal sebagai jenius dalam matematika tetapi terkendala oleh penyakit Sklerosis yang merenggut semangat dan ambisinya.

Martin yang awalnya tidak ingin menjadi tutor bagi Nathan, akhirnya mau membimbing Nathan dalam matematika. Setelah 7 tahun membimbingnya, Martin mengikutsertakan Nathan dalam olimpiade matematika. Nathan pun berhasil menjadi salah satu kandidat untuk Inggris dalam olimpiade matematika. Bergabung dalam tim olimpiade matematika Inggris, Nathan harus berangkat ke Shanghai untuk mengikuti pelatihan.

Nathan pun dihadapkan dengan tantangan baru, di mana ia dikelilingi oleh remaja – remaja lain yang sepintar dirinya dalam hal matematika dan memiliki keunikannya sendiri. Mencoba melawan kesulitan tersebut, Nathan bertemu dengan seorang remaja perempuan bernama Zhang Mei, teman pelatihannya selama di Shanghai. Zhang Mei pun membantu Nathan untuk mengatasi gangguan yang dialaminya sehingga lolos ke putaran akhir olimpiade matematika.

Ketika Zhang dan Nathan kembali ke Inggris dan bertemu dengan Julie, Julie sangat terkejut dengan perubahan dalam diri Nathan. Ia tampak lebih mudah berkomunikasi dengan sekitarmya. Julie pun menduga Nathan menyimpan rasa cinta pada Zhang dan putranya tersebut tidak mengerti perasaan yang dimilikinya.

Keadaan tiba – tiba berubah ketika paman Zhang salah paham saat mendapati Zhang ada di dalam kamar Nathan. Hal ini menyebabkan Zhang memutuskan keluar dari olimpiade matematika dan pulang kembali ke Shanghai. Nathan pun menjadi kebingungan dengan perasaan yang dimilikinya terhadap Zhang dan juga keikutsertaannya dalam olimpiade matematika.

Pentingnya mengenali emosi

Kondisi Nathan yang memiliki kesulitan dalam kemampuan sosial diperburuk dengan adanya trauma yang pernah dialaminya. Hal ini yang menyebabkan dirinya sulit untuk menerima kenyataan. Dalam film digambarkan Nathan terlihat bingung dengan identitas dirinya sendiri. Keberadaan ibunya pun tidak terlalu berpengaruh dengannya. 

Nathan yang pada saat itu sedang beranjak dewasa mulai merasakan hal yang berbeda dalam dirinya setelah ia berdekatan dengan Zhang Mei. Sayangnya ia tidak mengetahui perasaaan tersebut. Hal ini disebabkan karena Nathan tak pernah mempelajari hal tersebut dari siapapun. Bahkan ibunya pun tidak berkesempatan untuk mengenalkan perasaan tersebut padanya. Perasaan yang disebut "cinta" baru ia sadari ketika Zhang Mei pergi meninggalkan dirinya. Dan pada saat itulah ia merasa bahwa luka lama akibat kehilangan ayahnya menyeruak kembali ke permukaan.

Penulis: Mas WOW | Penikmat film, penggemar musik, dan pengagum buku

Kritik & Saran
Pengenalan Autisme
Ads on us
Iklan Tes Deteksi